HAIJABAR.ID – Desakan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung segera menghadirkan jalur sepeda yang aman kembali disorot setelah tiga pesepeda meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan.
Komunitas pesepeda meminta pemerintah membangun jalur sepeda terproteksi demi meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
Tiga Pesepeda Tewas dalam 2 Bulan
Rentetan kecelakaan tersebut bermula pada 16 Juni 2026, ketika Dika Putra Mahardia (14), seorang pelajar SMP, meninggal dunia akibat kecelakaan di Jalan Soekarno Hatta, Kecamataan Gedebage.
Peristiwa serupa kembali terjadi pada 29 Juni 2026, Muhammad Pahmi, seorang pelajar SMA, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RS Bandung Kiwari akibat kecelakaan di Jalan Peta.
Korban terbaru adalah Wenti Prima Dewi, seorang ibu rumah tangga yang meninggal dunia usai tertabrak truk pengangkut elpiji di bawah flayover Kopo pada 29 Juli 2026.
Menyikapi rentetan kejadian tersebut, komunitas pesepeda mendesak pemerintah tidak hanya menyediakan marka jalur sepeda berwarna hijau-putih, tetapi juga membangun jalur sepeda yang dilengkapi pembatas fisik seperti beton, water barrier, maupun stick cobe agar lebih aman bagi pesepeda.
Pemkot Bandung Petakan Jalur Beresiko Bersama Komunitas
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui infastruktur jalur sepeda yang ada saat ini belum mampu menjamin keselamatan para pesepeda di jalan raya.
Karena itu, Dinas Perhubungan Kota Bandung kini melakukan komunikasi intensif dengan berbagai komunitas pesepeda untuk memetakan ruas jalan yang dinilai berisiko serta menentukan jalur yang lebih aman digunakan.
“Belum adam terus terang. Jadi sekarang ini Dinas Perhubungan sedang melakukan komunikasi yang sangat intens dengan komunitas-komunitas sepeda agar nereka bisa memberikan rekomendasi kepada kita, jalur-jalur apa saja yang dianggap berisiko dan mana jalur-jalur yang lebih aman untuk para pesepeda,” kata Farhan pada Senin, (3/8/2026).
Farhan mengatakan pemetaan tersebut menjadi langkah penting sebelum pemerintah menentukan pengembangan jalur sepeda di Kota Bandung.
Ia juga menyebut momentum penyelenggaraan Jambore Sepeda Lipat Nasional akan dimanfaatkan untuk memperkuat sosialisasi mengenai keselamatan pesepeda.
“Sosialisasi ini menjadi sangat penting dan akan kita manfaatkan momentumnya nanti pada saat kita menjadi tuan rumah Jambote Sepeda Lipat Nasional. Insyaallah itu akan dilakukan,” katanya.
Komunitas Desak Jalur Speda Terproteksi Segera Dibangun
Ketua Bike to Work (B2W) Bandung, Mochamad Andi Nurfauzi, menyoroti tingginya risiko kecelakaan di Jalan Soekarno Hatta.
Berdasarkan kajian akademisi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), ruas jalan tersebut dinilai berbahaya bagi pejalan kaki maupun pesepeda karena minim fasilitas penyeberangan dan tingginya kecepatan kendaraan yang mencapai 60 kilometer per jam di jalur cepat.
Menurut Andi, regulasi mengenai perlindungan pesepeda sebenarnya telah tersedia, mulai dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022, Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2021, hingga Peraturan Kota Bandung Nomor 47 Tahun 2022. Namun, implementasinya di lapangan dinilai masih belum optimal.
“Saat ini belum ada di Kota Bandung, itu harusnya dipasang di ruang jalan yang emmang paling berisiko. Jadi banyak lah kalau kita bisa ngupas dari sisi kebijakan untuk kebutuhan adanya jalur yang terproteksi ini bisa ditinjau dari kebijakan di pusat bahkan hingga di daerah,” bebernya.
Ia menilai bersepeda kini bukan sekadar hobi, tetapi telah menjadi moda transportasi masyarakat menuju tempat kerja sehingga membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai.
Karena itu, Andi berharap pemerintah daerah bersama DPRD Kota Bandung segera merealisasikan pembangunan jalur sepeda terproteksi sebagai bentuk komitmen terhadap keselamatan pesepeda.
“Jadi memang harapan dari teman-teman, terutama yang komunitas pesepeda itu bisa merasa aman dan nyaman saat di jalan raya.Regulasi sudah ada, dan komitmen yang harus dijalankan, termasuk dengan politik anggaran,” katanya.
“Jadi yang kami dorong sebetulnya bukan hanya ke eksekutif, tapi juga legislatif harus mampu melihat bahwa ini adalah hal yang urgent yang terjadi di Kota Bandung. mau sampai berapa banyak korban lagi gitu yang ada di Kota Bandung, khususnya bagi para pesepeda termasuk juga pengendara kendaraan lainnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan