HAIJABAR.ID – PT PLN (Persero) menyiapkan gardu hubung khusus untuk menyalurkan listrik yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Kota Bekasi.

Listrik dari pengelolaan sampah tersebut nantinya didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan listruk di Kota Bekasi.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, keputusan tersebut mempertimbangkan tingginya beban listrik di Kota Bekasi. Hal itu disampaikan dalam peresmian pembangunan PSEL Kota Bekasi, pada Rabu (26/8/2026).

Darmawan menjelaskan, lokasi PSEL yang berada di kawasan TPST Bantargebang berjarak sekitar 10 kilometer dari gardu induk PLN.

Namun, PLN memilih membangun gardu hubung yang lebih dekat agar listrik yang dihasilkan dapat langsung disalurkan untuk kebutuhan Kota Bekasi.

“Secara teknis jarak Bantargebang ke gardu induk PLN 10 kilometer. Tetapi, Pak Wali Kota menyampaikan beban listrik di Bekasi tinggi. Maka, kita mendedikasikan listrik dari PSEL Bekasi ini untuk Kota Bekasi,” kata Darmawan.

Gardu Hubung Dibangun 5 Kilometer dari PSEL

Darmawan mengatakan, PLN sebelumnya berencana menghubungkan listrik PSEL ke gardu induk untuk kemudian disalurkan ke berbagai wilayah. Skema tersebut kemudian diubah dengan menyiapkan gardu hubung sekitar lima kilometer dari lokasi PSEL.

“Semula mau kita sambung ke gardu induk, yang kemudian ke mana-mana. Kita bangun gardu hubung yang hanya lima kilometer dari sini,” ungkapnya.

PSEL Kota Bekasi memiliki kapasitas terpasang 36 megawatt (MW), sedangkan daya yang akan digunakan sekitar 27 MW.

Listrik tersebut akan disalurkan dari PSEL menuju gardu hubung menggunakan jaringan melalui tiang listrik. Gardu hubung itu disiapkan secara khusus untuk mendukung penyaluran listrik PSEL ke Kota Bekasi.

“Karena ini hanya 27 MW dengan terpasang 36 MW, maka ini menggunakan tiang listrik biasa ke gardu hubung itu, khusus, spesialis untuk Kota Bekasi,” ujarnya.

Sampah Bekasi Diolah, Listrik Kembali ke Bekasi

Menurut Darmawan, skema tersebut membuat listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah Kota Bekasi dapat kembali dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah tersebut.

Ia berharap setelah PSEL memasuki tahap commissioning, masyarakat dapat mengetahui bahwa listrik yang mereka gunakan berasal dari pengolahan sampah.

“Jadi Pak Wali bisa menyampaikan, begitu PSEL nanti commissioning, listriknya ini dari sampah. Sampahnya Kota Bekasi masuk ke sini, kemudian produksi listrik kita kirim kembali ke Kota Bekasi,” tutur Darmawan.

PSEL Ditargetkan Kelola 500 Ribu Ton Sampah per Tahun

Pembangunan PSEL Kota Bekasi merupakan bagian dari upaya penanganan persoalan sampah perkotaan. Proyek tersebut merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 mengenai penanganan sampah perkotaan melalui proyek PSEL.

CEO Danantara Investment Management (DIM) Pandu Sjahrir mengatakan, pemerintah bersama Danantara bergerak mempercepat penanganan persoalan sampah di Kota Bekasi.

“Seluruh kementerian/lembaga terkait bersama Danantara bergerak cepat dan profesional dalam mengatasi isu darurat sampah di Kota Bekasi,” ujar Pandu.

Ia menjelaskan, enam konsorsium sebelumnya menyerahkan proposal dan mengikuti proses evaluasi Danantara pada 2-20 Januari 2026. Dari proses tersebut, dua konsorsium dinyatakan lolos dan melanjutkan tahap negosiasi.

Rangkaian proses kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Joint Venture Agreement (JVA) pada 2 Maret 2026, Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada 21 April 2026, penerbitan Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 22 Mei 2026, hingga penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) pada 26 Agustus 2026.

Setelah seluruh tahapan tersebut, pembangunan PSEL Kota Bekasi resmi dimulai. Proyek ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau sekitar 70 persen dari timbulan sampah terolah di Kota Bekasi.

“Proyek ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau sekitar 70 persen timbulan sampah terolah di Kota Bekasi,” kata Pandu.