HAIJABAR.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Imbauan ini disampaikan setelah kualitas udara berada pada kategori sedang dan jumlah pasien dengan gangguan kesehatan yang dipantau mengalami peningkatan.

Pemkot Imbau Waspadai Abu Vulkanik

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bogor Ana Ismawati mengatakan kualitas udara Kota Bogor berada pada kategori sedang dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 85 µg/m³.

“Dengan kondisi kualitas udara saat ini, kami mengimbau masyarakat terutama lansia, anak-anak, penderita asma, alergi, serta warga dengan gangguan jantung dan pernapasan, untuk lebih waspada dan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan dalam waktu lama,” kata Ana pada Sabtu, (12/9/2026).

Data tersebut tercatat pada Jumat 11 September 2026. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) selama 24 jam, rata-rata konsentrasi tercatat sebesar 69,33 µg/m³.

“Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan, khususnya bagi kelompok sensitif. Masyarakat umum yang sehat masih dapat beraktivitas di luar ruangan dengan tetap memperhatikan kondisi tubuh dan perkembangan kualitas udara,” jelasnya.

Pasien ISPA hingga Gangguan Kulit Bertambah

Pemkot Bogor juga terus memantau perkembangan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan abu vulkanik melalui fasilitas layanan kesehatan.

“Data pemantauan menunjukkan jumlah pasien dengan gangguan kesehatan yang dipantau meningkat dari 1.360 pasien pada periode sebelumnya menjadi 1.544 pasien pada periode saat ini, atau bertambah 184 pasien,” jelasnya.

“Perkembangan tersebut mencakup kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan mata, dan gangguan kulit,” tambah dia.

Meski jumlah pasien meningkat, Pemkot Bogor menyebut kenaikan tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui faktor penyebab dan keterkaitannya dengan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memantau perkembangan kasus secara berkala. Kenaikan ini perlu dianalisis lebih lanjut agar langkah penanganan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan,” jelasnya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama instansi terkait juga terus memantau perkembangan penyakit dan kualitas udara. Pemantauan dilakukan untuk mendapatkan gambaran kondisi kesehatan masyarakat sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat.

“Koordinasi pemantauan kualitas udara dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup, BMKG, dan BPBD,” kata Kepala Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena.