HAIJABAR.ID – Upaya menghadirkan hujan buatan atau modifikasi cuara di Jawa Barat belum dapat dilakukan meski musim kemarau diprediksi mencapai fase terkering pada September hingga Oktober 2026.

Kondisi tersebut terjadi karena awan yang berpotensi dimodifikasi untuk menghasilkan hujan masih minim.

Kepala Satuan Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, mengatakan pelaksanaan modifiksi cuaca membutuhkan awan dengan potensi yang memadai.

Saat ini, potensi awan pembawa hujuan di wilayah Jawa Barat masih berada di bawah 30 persen.

“Kami harus menunggu awan terkumpul dulu baru bisa melaksanakan hujan buatan. Kalau belum cukup. belum bisa dilakukan,” kata Suaidi pada Senin, (31/8/2026).

Awan Pembawa Hujan di Jabar Masih di Bawah 30 Persen

Minimnya awan menjadi kendala utama pelaksanaan hujan buatan di Jawa Barat.

Meski kebutuhan terhadap hujan semakin tinggi akibat kemarau, modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan tanpa adanya awan yang memenuhi syarat.

Kondisi tersebut menjadi tantangan karena Jawa Barat tengah menghadapi musim kemarau yang dipengaruhi El Nino kategori sangat kuat.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026.

Sejumlah daerah di Jawa Barat juga berpotensi mengalami kondisi yang lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Meski demikian, peluang terjadinya hujan lokal masih terbuka apabila kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan awan konvektif.

“Wilayah Bandung tetap masuk Zona Musim yang jelas, sehingga hujan lokal sesekali turun masih terbilang wajar,” tambah Suaidi.

Hujan Lokal Masih Berpeluang Terjadi

Berdasarkan data atmosfer periode 24-30 Agustus 2026, suhu permukaan laut tercatat relatif hangat.

Sementara itu, kelembapan udara di lapisan atas berada pada kisaran 30-95 persen dengan kondisi labilitas atmosfer yang bervariasi.

Kondisi tersebut masih membuka peluang terbentuknya awan konvektif yang dapat memicu hujan lokal.

Namun, hujan yang terjadi diperkirakan tidak merata di seluruh wilayah Jawa Barat.

Di sisi lain, suhu udara juga menunjukkan peningkatan. Catatan Stasiun Geofisika Bandung menunjukkan suhu maksimum pada periode 1-26 Agustus mencapai 32,6 derajat Celsius.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan suhu maksimum pada Juli yang tercatat 31,8 derajat Celsius.

Kenaikan suhu yang disertai minimnya curah hujan turut mempercepat berkurangnya ketersediaan air, terutama di daerah yang memiliki cadangan air terbatas.

Bogor hingga Bekasi Mulai Terdampak Kemarau

Dampak kemarau panjang telah dirasakan sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Bogor, Garut, Sukabumi, dan Bekasi.

Di Kabupaten Bogor, distribusi bantuan air bersih untuk masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air telah mencapai sekitar 7-9 juta liter.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya suhu udara, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat berupa ketersediaan air bersih.

Karena itu, pemerintah daerah diminta mulai memperkuat cadangan air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober.

Warga Diminta Waspadai Kebakaran Lahan

Selain persoalan ketersediaan air, kondisi lahan yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Barat.

Suaidi meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan karena kondisi kering dapat membuat api lebih mudah menyebar.

“Kami menemukan jejak pembakaran lahan di sekitar Tol Cisumdawu. Mohon hal itu tidak diulang lagi,” katanya.