HAIJABAR.ID – Beras premium kemasan 5 kilogram semakin sulit ditemukan di sejumlah ritel modern Kota Bandung. Kondisi tersebut terlihat dari rak-rak beras yang lebih banyak diisi produk beras khusus atau fortikasi dengan harga relatif tinggi.
Hasil pantauan “PR” sejumlah ritel di Kota Bandung menunjukkan stok beras premium kemasan 5 kilogram semakin menipis.
Sejumlah petugas ritel juga membenarkan pasokan beras premium dari distributor mengalami kendala dalam beberapa pekan terakhir.
Asep (38), Staf Operasional Yogya Riau Junction, mengaku pengiriman beras premium dari distributor mulai tersendat dan kerap kosong.
“Sudah ada kali dua mingguan pasokan yang 5 kiloan ga masuk-masuk. Dari salesnya memang ga ngirim, katanya stok di gudang pusatnya kosong. Ya, paling kita, mah pajang apa yang ada aja di rak, kaya beras fortifikasi atau beras khusus. Pembeli juga banyak yang nanyain, cuma ya mau gimana lagi, barangnya memang ga ada,” kata Asep saat ditemui “PR”, Senin 7 September 2026.
Pasokan Beras Premium di Ritel Mulai Seret
Hal serupa disampaikan Rina Fitriani (31), Floor Supervisor Borma Dago. Menurutnya, pihak toko hanya menerima kiriman beras seadanya dari pemasok.
Kondisi tersebut membuat pihak ritel tidak dapat memastikan kapan pasokan beras premium akan kembali normal.
Fenomena kelangkaan beras premium di tingkat ritel ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah pernyataan pemerintah mengenai kondisi cadangan beras nasional yang aman serta tercapainya surplus produksi.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University sekaligus Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Prof. Dwi Andreas Santosa, menilai terdapat korelasi yang terputus antara klaim stok beras melimpah dengan kondisi pasokan di pasar.
Bulog Serap 3,5 Juta Ton dari Surplus Produksi
Menurut Prof. Dwi Andreas, kelangkaan beras di tingkat hilir berkaitan dengan berkurangnya volume beras yang beredar di pasar bebas setelah Bulog melakukan penyerapan dalam jumlah besar di tingkat hulu.
Berdasarkan data resmi, sepanjang Januari hingga Juli 2026, surplus produksi beras nasional tercatat mencapai 4,03 juta ton.
Pada periode yang sama, Bulog menyerap gabah dan beras hingga 3,5 juta ton. Artinya, beras surplus yang masih beredar bebas di pasar swasta hanya sekitar 400.000 ton.
“Bisa dibayangkan, dari total surplus 4,03 juta ton, diserap Bulog 3,5 juta ton. Artinya, sisa beras surplus yang beredar bebas di pasar swasta hanya tersisa 400.000 ton. Dari 4 juta ton tersisa cuma 400.000 ton, ya pasar goncanglah, pastilah,” ujar Prof. Dwi saat dihubungi “PR”.
Menipisnya pasokan komersial bebas tersebut kemudian membuat penggilingan padi swasta kesulitan memperoleh bahan baku Gabah Kering Panen (GKP).
Harga Gabah Naik, Biaya Produksi Beras Premium Membengkak
Data menunjukkan harga GKP di tingkat penggilingan terus mengalami kenaikan. Pada Januari 2026, harga tercatat Rp 6.703 per kilogram, kemudian naik menjadi Rp 7.349 per kilogram pada Juli, Rp 7.656 per kilogram pada Agustus, hingga menembus lebih dari Rp 8.000 per kilogram pada September.
Kenaikan harga gabah turut meningkatkan biaya produksi beras. Bahkan, menurut Prof. Dwi, dengan harga gabah sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram, biaya pokok produksi untuk menghasilkan beras kelas medium sudah mencapai Rp 13.888 per kilogram.
“Untuk harga gabah sesuai HPP sebesar Rp 6.500 per kilogram saja, biaya pokok produksi untuk menjadi beras kelas medium itu sudah menyentuh Rp 13.888 per kilogram,” ungkap Prof. Dwi.
Sementara itu, biaya produksi beras premium lebih tinggi karena membutuhkan proses pengolahan dengan standar sosoh lebih tinggi, pembersihan menir, pengemasan, hingga distribusi.
“Kontrak pengadaan untuk beras premium itu biaya produksinya saja sudah mencapai Rp 15.052 per kilogram. Itu baru biaya produksi di hulu, belum sampai ke masyarakat, belum dihitung biaya logistik dan margin ritel. Kita bayangkan gimana biaya produksi Rp 15.052 per kilogram, lalu ada yang mau jual Rp 14.900 per kilogram? Ya tidak akan ada lah,” ungkapnya.
Produsen Pilih Beras Fortifikasi hingga Pasar Tradisional
Menurut Prof. Dwi, kondisi tersebut membuat produsen memiliki sejumlah pilihan untuk menghindari tekanan harga.
Salah satunya dengan mengalihkan produksi ke beras fortifikasi yang tidak terikat Harga Eceran Tertinggi (HET).
Alternatif lainnya adalah mengalihkan stok beras ke pasar tradisional atau toko beras informal yang memiliki fleksibilitas lebih besar dalam penetapan dan pengawasan harga.
Sementara itu, program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disalurkan Bulog melalui ritel modern dinilai belum sepenuhnya mampu menggantikan beras premium komersial.
Hal itu berkaitan dengan preferensi konsumen terhadap kualitas dan rasa beras premium.
Di sisi lain, tekanan terhadap pasokan beras diperkirakan masih akan berlangsung akibat mundurnya musim tanam yang dipengaruhi fenomena iklim El Nino.
Penundaan awal musim hujan membuat jadwal tanam bergeser di sejumlah daerah sentra produksi.
Prof. Dwi memperkirakan panen raya dalam negeri baru akan terjadi pada kuartal kedua tahun depan.
“Perkiraan saya, panen raya baru mulai terjadi sekitar April atau April-Mei. Musim tanam tahun ini perkiraan saya baru akan mundur di bulan November atau Desember. Berarti dari sekarang sampai menjelang panen raya April-Mei mendatang, tekanan harga dan pasokan beras akan terus membayangi pasar,” kata Prof. Dwi

Tinggalkan Balasan