MBG Prasmanan Mulai Diuji Coba di Bogor, Siswa Sebut Nasi Lebih Hangat


HAIJABAR.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan mulai diterapkan di Kota Bogor, Jawa Barat pada Senin, (12/10/2026).
Sejumlah siswa mengaku lebih menyukai metode penyajian ini karena makanan, terutama nasi, masih hangat saat disantap.
Berdasarkan pantauan, dikutip dari kompas.com petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polresta Bogor Kota tiba di halaman SDN Cibalagung 5 sekitar pukul 09.30 WIB untuk menyiapkan MBG prasmanan bagi siswa kelas 5 dan 6.
Petugas lebih dahulu menata meja, tempat makan, dan ompreng. Mereka juga menggunakan penutup kepala serta sarung tangan sebelum menyajikan makanan kepada para siswa.
Sekitar pukul 09.45 WIB, para siswa mulai mengantre dengan tertib untuk mengambil makanan. Sejumlah siswa juga terlihat membantu membagikan lauk dan buah kepada teman-temannya.
Menu yang disajikan terdiri dari nasi, ayam krispi, wortel, tahu, dan buah kelengkeng.
Salah satu siswa, Arkan (10), mengaku lebih menyukai MBG prasmanan dibandingkan makanan yang dibagikan menggunakan ompreng karena suhunya masih hangat saat diterima.
“Lauk ada ayam, tahu, sayur, sama nasi. Lebih suka prasmanan masih hangat (MBG ompreng) dingin,” kata Arkan saat ditemui Kompas.com pada Senin.
Hal serupa disampaikan Fatih (10). Ia menilai nasi dalam MBG prasmanan terasa lebih hangat dibandingkan nasi yang sebelumnya dibagikan menggunakan ompreng.
“Prasmanan lebih anget, nasinya. (Sebelumnya) dingin nasinya,” kata Fatih.
Sementara itu, Abiyan (11) mengatakan nasi dalam ompreng MBG terkadang sudah dingin ketika diterima siswa. Menurutnya, penyajian prasmanan membuat nasi masih hangat saat akan disantap.
“Prasmanan soalnya nasinya hangat,” imbuh dia.
Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba penyajian MBG dengan sistem prasmanan di sejumlah sekolah.
Uji coba yang melibatkan lebih dari 60 dapur tersebut dimulai pada Senin (5/10/2026) dan diterapkan di sejumlah daerah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Papua.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, dalam skema ini makanan dibawa dari dapur menuju sekolah dalam kondisi hangat, kemudian disajikan langsung kepada siswa di kelas.
“Kita sudah piloting mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa anget-anget ke kelas kemudian disajikan di kelas,” kata Sudaryono saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin.
Menurut Sudaryono, metode penyajian langsung di sekolah diharapkan dapat menjaga kesegaran makanan karena waktu penyimpanan dan perjalanan sebelum dikonsumsi menjadi lebih singkat.
Penerapan MBG prasmanan di Kota Bogor menjadi bagian dari uji coba metode penyajian tersebut.
Pengalaman siswa yang menerima makanan secara langsung juga menjadi gambaran awal mengenai penerimaan metode ini di lingkungan sekolah.Siswa Lebih Suka MBG Prasmanan karena Masih Hangat
Salah satu siswa, Arkan (10), mengaku lebih menyukai MBG prasmanan dibandingkan makanan yang dibagikan menggunakan ompreng karena suhunya masih hangat saat diterima.
“Lauk ada ayam, tahu, sayur, sama nasi. Lebih suka prasmanan masih hangat (MBG ompreng) dingin,” kata Arkan saat ditemui Kompas.com pada Senin.
Hal serupa disampaikan Fatih (10). Ia menilai nasi dalam MBG prasmanan terasa lebih hangat dibandingkan nasi yang sebelumnya dibagikan menggunakan ompreng.
“Prasmanan lebih anget, nasinya. (Sebelumnya) dingin nasinya,” kata Fatih.
Sementara itu, Abiyan (11) mengatakan nasi dalam ompreng MBG terkadang sudah dingin ketika diterima siswa. Menurutnya, penyajian prasmanan membuat nasi masih hangat saat akan disantap.
“Prasmanan soalnya nasinya hangat,” imbuh dia.
Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba penyajian MBG dengan sistem prasmanan di sejumlah sekolah.
Uji coba yang melibatkan lebih dari 60 dapur tersebut dimulai pada Senin (5/10/2026) dan diterapkan di sejumlah daerah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Papua.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, dalam skema ini makanan dibawa dari dapur menuju sekolah dalam kondisi hangat, kemudian disajikan langsung kepada siswa di kelas.
“Kita sudah piloting mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa anget-anget ke kelas kemudian disajikan di kelas,” kata Sudaryono saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin.
Menurut Sudaryono, metode penyajian langsung di sekolah diharapkan dapat menjaga kesegaran makanan karena waktu penyimpanan dan perjalanan sebelum dikonsumsi menjadi lebih singkat.
Penerapan MBG prasmanan di Kota Bogor menjadi bagian dari uji coba metode penyajian tersebut.
Pengalaman siswa yang menerima makanan secara langsung juga menjadi gambaran awal mengenai penerimaan metode ini di lingkungan sekolah.