Bukan Bangun Jalan, Dedi Mulyadi Sebut Ini Tantangan Terberat Pimpin Jabar


HAIJABAR.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap tantangan yang menurutnya paling berat selama memimpin Jawa Barat. Bukan membangun jalan atau sekolah, Dedi menyebut menghijaukan kembali gunung dan hutan sebagai pekerjaan tersulit.
Hal itu disampaikan Dedi saat menjadi pembicara dalam Ground Talk & Bebersih Leuweung Republika di Titik 0 Km Sungai Citarum Situ Cisanti, Gunung Wayang, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung pada Sabtu, (26/9/2026).
“Bagi saya jujur bangun jalan mudah, bangun sekolah mudah. Tapi yang paling berat bagi diri saya adalah menghijaukan gunung dan hutan,” kata Dedi Mulyadi pada Sabtu, (26/9/2026).
Menurut Dedi, penghijauan gunung dan hutan menjadi salah satu targetnya selama memimpin Jawa Barat.
Ia mengaku prihatin melihat sejumlah kebun dan kawasan hutan yang gundul hingga beralih fungsi menjadi lahan bisnis.
“Saya memimpin Jawa Barat dalam 5 tahun ini, enggak akan ada arti kalau tidak bisa menghijaukan Provinsi Jawa Barat,” kata Dedi Mulyadi.
Untuk mewujudkan target tersebut, Pemprov Jawa Barat akan melakukan penanaman secara masif dengan menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi masing-masing lahan.
Lahan perkebunan teh yang gundul, misalnya, akan kembali ditanami komoditas teh. Sementara itu, penanaman di kawasan hutan akan disesuaikan dengan kondisi lahan.
Dedi mengatakan dirinya telah menginstruksikan Dinas Kehutanan serta Dinas Perkebunan untuk mengalokasikan anggaran khusus bagi penghijauan dan pengelolaan hutan serta kebun.
“Untuk alokasi pembiayaan tahun depan di hutbun (hutan dan kebun) harus di atas Rp150 miliar. Jadi komposisi terbesarnya itu hanya dua, pengadaan benih dan upah petani, penjaga hutan,” sebut dia.
Program penghijauan tersebut nantinya juga akan melibatkan petani di sekitar kawasan hutan dan perkebunan.
Petani akan dilibatkan mulai dari proses penanaman, pemeliharaan hingga panen hasil tanaman. Dedi mengatakan mereka akan mendapatkan upah bulanan yang dinilai lebih layak dibandingkan pendapatan sebagai buruh tani harian.
“Sudah sewakan sajak kepada Pemprov. Oleh pemprov ditatanami teh orang yang nanam tehnya sampai tehnya bisa dipetik digaji tiap bulan. Kebijakan di bidang kehutanan juga begitu setiap lahan terbuka udah ditanami aja oleh petani penggarap. Kemudian penggarapnya digaji Rp1,5-2 juta per bulan,” ungkap Dedi.
Menurut Dedi, kebijakan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengembalikan tutupan hijau di kawasan gunung dan hutan.
Pelibatan petani dengan sistem upah bulanan juga diharapkan memberikan kepastian pendapatan bagi masyarakat yang bekerja di sekitar kawasan tersebut.
Dengan kebijakan itu, penghijauan kawasan hutan dan perkebunan di Jawa Barat ditargetkan berjalan bersamaan dengan peningkatan kesejahteraan petani.