HAIJABAR.ID – Empat destinasi dan rute pendakian di wilayah Bandung Utara untuk sementara ditutup. Kebijakan tersebut diterapkan mengikuti arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau panjang yang diperkuat fenomena El Nino.

Keempat destinasi pendakian yang ditutup mengacu pada Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Barat, yakni:

  • Gunung Burangrang di perbatasan Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kabupaten Purwakarta
  • Kawasan Cikole Lembanh melalui trek 11 dan Lorong Lumut Sukawana
  • Gunung Manglayang di Kabupaten Bandung
  • Gunung Palasari di Kabupaten Subang

Kepala Sub Seksi Hukum Kepatuhan Agraria dan Komunikasi Perusahaan Perum Perhutani KPH Bandung Endan Cahyadi mengatakan penutupan tersebut bersifat sementara dan akan menyesuaikan kondisi cuaca.

“Dalam SE dari Gubernur pun tidak menyebutkan tanggal pastinya, karena kita tidak bisa memprediksi sampai kapan musim kemarau ini berlangsung,” kata Endan saat dikonfirmasi, Rabu (9/9/2026).

Pendakian dan Camping Dilarang

Menurut Endan, aktivitas pendakian yang disertai kegiatan berkemah menjadi salah satu potensi pemicu kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, penutupan juga berlaku untuk aktivitas camping di kawasan tersebut.

“Ini salah satu antisipasi kebakaran karena ulah manusia. Jadi penutupan juga berikut dengan larangan aktivitas camping karena berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan,” kata Endan.

Selama penutupan berlangsung, Perum Perhutani melakukan patroli di kawasan hutan yang masuk wilayah Bandung Utara. Luas hutan KPH Bandung Utara secara administratif mencapai sekitar 20.500 hektare.

Wilayah tersebut membentang dari kawasan Batu Kuda, Ujungberung, Kabupaten Bandung, kemudian Cikole hingga Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat, kawasan Cisalak-Serangpanjang di Kabupaten Subang, serta Wanayasa di Kabupaten Purwakarta.

Sekitar 75 persen kawasan KPH Bandung Utara merupakan hutan lindung. Sementara 25 persen lainnya merupakan hutan produksi yang berada di wilayah Padalarang, KBB.

“Kami melakukan patroli untuk mengantisipasi kemunculan titik api dan pendaki ilegal. Pengawasan dilakukan selama 24 jam, karena potensi karhutla paling besar itu ada di area hutan produksi,” kata Endan.

Perhutani Siapkan Peralatan Pemadam

Perum Perhutani juga menyiapkan sejumlah peralatan untuk mengantisipasi kebakaran di kawasan Bandung Utara.

Pemadaman akan dilakukan secara manual karena kondisi kawasan hutan sulit dijangkau mobil pemadam kebakaran.

“Penanganan dilakukan secara manual karena mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk ke lokasi. Petugas Polhut dan LMDH dibekali peralatan seperti jet shooter (pompa punggung), serta mesin pompa air portable dengan selang panjang. Kendaraan operasional Polhut juga sudah dimodifikasi dan dilengkapi dengan toren air untuk mengantisipasi kejadian,” kata Endan.