HAIJABAR.ID – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti banjir yang sempat berulang di kawasan Puncak dan sekitarnya.

Ia meminta Pemerintah Kabupaten Cianjur menertibkan aktivitas pertanian berupa penanaman sayuran di lereng kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Dedi menilai aktivitas berkebun di bentang kawasan lereng gunung berpotensi meningkatkan risiko banjir dan longsor ketika musim hujan.

“Pak bupati, nanti tata ruangnya dibenahi. Tidak boleh menanam sayur di majang gunung. Atuh bukan gunung namanya, tapi kebun,” kata Dedi pada Selasa, (2/9/2026).

Menurut Dedi, kondisi banjir yang terjadi kawasan Puncak dan sekitarnya beberapa waktu lalu cukup janggal.

Sebab, kawasan tersebut berada di daratan tinggi yang seharusnya bukan menjadi wilayah utama terjadinya banjir.

“Kan aneh, ada banjir di Puncak. Dimana-mana banjir itu di daerah hilir, dataran rendah,” kata dia.

Dedi Minta Lereng Gunung Dijaga

Dedi menduga kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan fungsi lahan di kawasan hulu.

Karena itu, ia mengajak masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan lereng gunung untuk turut menjaga kelestarian lingkungan.

Menurutnya, menjaga kawasan gunung merupakan bagian dari upaya merawat lingkungan dan menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat di Jawa Barat.

“Memelihara gunung bukan bertujuan kemusyrikan, bukan memuja, tapi mengurus. Jawa Barat akan subur makmur kalau gunungnya diurus, salah satunya Gunung Gede Pangrango,” ujar Dedi.

Permintaan tersebut disampaikan Dedi saat bertemu dengan 486 relawan dan warga yang sebelumnya terlibat dalam penanganan kebakaran di kawasan TNGGP.

486 Relawan Dapat Uang Kadeudeuh

Dalam kesempatan tersebut, Dedi memberikan apresiasi kepada para relawan dan warga yang telah membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan TNGGP.

Sebanyak 486 relawan dan warga menerima kadeudeuh berupa uang saku sebesar Rp600.000 per hari

. Besaran uang yang diterima masing-masing orang disesuaikan dengan lama keterlibatan mereka dalam penanganan kebakaran.

Dedi mengatakan pemberian uang kadeudeuh tersebut bukan semata-mata persoalan materi.

Menurutnya, hal itu merupakan bentuk apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap kepedulian dan kontribusi masyarakat dalam menangani karhutla.

“Hatur nuhun untuk semua warga yang sudah memadamkan kebakaran di Gunung Gede. Tidak terbayang kalau kebakarannya meluas. Selain kawasan hutannya yang rusak, pariwisata juga akan hancur, dan masyarakat akan merasakan dampaknya,” ujar Dedi.