HAIJABAR.ID –  Suhu udara di sejumlah wilayah Bandung Raya terasa lebih hangat dalam beberapa hari terakhir meski wilayah tersebut masih berada pada musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat temperatur maksimum di Kota Bandung mencapai 32 derajat Celsius.

Berdasarkan pengamatan BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, suhu udara di Bandung dalam dua hari terakhir berada pada kisaran 21 hingga 32 derajat Celsius.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga mengeluhkan udara yang terasa panas dan lembap.

Warga Keluhkan Gerah dan Sulit Tidur

Salah satunya Adi, warga yang tinggal di kawasan Cilampeni, Katapang, Kabupaten Bandung. Ia mengaku merasa lebih gerah dibandingkan biasanya dalam beberapa hari terakhir.

“Malam pun gerah. Untuk menghilangkan gerah, sampai mandi dua kali, sekitar pukul 18.30 dan 21.00,” kata Adi pada Rabu, (19/8/2026).

Adi mengatakan rasa gerah tidak hanya dirasakan pada siang hari. Pada malam hari, suhu yang terasa panas membuatnya kesulitan tidur.

Kondisi serupa dialami warga Katapang lainnya, Luthfi. Ia juga mengaku sulit tidur karena udara terasa sumuk dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut terjadi meski sinar matahari terkadang tertutup awan. Warga tetap merasakan udara panas dan tubuh lebih mudah berkeringat.

Kelembapan 55-80 Persen Bikin Udara Terasa Sumuk

Prakirawan BMKG Bandung Yuni Yulianti menjelaskan kondisi udara yang terasa gerah dipengaruhi oleh suhu yang cukup hangat serta kelembapan udara yang relatif tinggi.

Kelembapan udara di Bandung dalam beberapa hari terakhir berada pada kisaran 55 hingga 80 persen.

“Suhu udara di Bandung cukup hangat pada dua hari terakhir, minimum 21 derajat celsius. Adapun suhu maksimum, tercatat 32 derajat celsius, di Kota Bandung. Kelembapan yang 55-80% membuat udara terasa sumuk (gerah),” ujar Yuni, Rabu (19/8/2026).

Menurut Yuni, tingginya kelembapan tersebut berkaitan dengan pertumbuhan awan konvektif secara lokal.

Kombinasi antara suhu yang hangat dan udara lembap membuat kondisi di Bandung Raya terasa panas dan mudah membuat tubuh berkeringat.

BMKG Tegaskan Belum Masuk Pancaroba

Pelaksana Tugas Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Edi Wibowo menegaskan, kondisi udara gerah yang dirasakan warga saat ini masih dipengaruhi faktor cuaca lokal.

Ia memastikan kondisi tersebut belum menunjukkan bahwa Bandung Raya telah memasuki masa peralihan musim atau pancaroba.

“Suhu udara minimum cukup hangat 2 hari terakhir pada kisaran 21-22 derajat celsius, kelembapan udara cukup lembap 55-80 %, sehingga kondisi udara terasa panas-lembap (sumuk). Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor lokal, belum menuju ke peralihan musim,” kata Edi.

Hujan Berpotensi Turun di Bandung Raya

Di tengah kondisi udara yang terasa gerah, hujan juga terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung pada Rabu (19/8/2026) sore.

Hujan turun antara lain di Baleendah, Bojongsoang, Margahayu, dan Katapang. Di Baleendah, hujan sempat turun dengan intensitas sedang hingga lebat.

Berdasarkan peringatan dini BMKG untuk Jawa Barat pada 19 Agustus 2026 pukul 15.50 WIB, terdapat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Bandung, Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Kota Bandung, dan Kota Cimahi.

Hujan berpotensi meluas ke wilayah lain di Jawa Barat pada malam hari. Cuaca tersebut juga dapat disertai petir dan angin kencang.

Dinamika Atmosfer Picu Pertumbuhan Awan Lokal

BMKG menyebut potensi hujan tersebut berkaitan dengan sejumlah dinamika atmosfer yang masih mendukung suplai uap air dan pertumbuhan awan konvektif secara lokal di sebagian wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya.

Beberapa faktor tersebut antara lain suhu muka laut yang masih relatif hangat di sebagian perairan Indonesia serta aktivitas gelombang Kelvin yang diprakirakan masih berlangsung di wilayah Jawa Barat.

Kondisi atmosfer tersebut membuat cuaca di Bandung Raya dapat berubah dalam waktu relatif cepat, dengan udara terasa panas dan lembap pada satu waktu kemudian berpotensi diguyur hujan pada waktu berikutnya.