Dinkes Jabar Waspadai Influenza Tipe A, Kasus Gangguan Pernapasan Mulai Naik


HAIJABAR.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit saluran pernapasan menyusul kecenderungan peningkatan kasus yang terpantau di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Kewaspadaan tersebut diperkuat setelah sejumlah rumah sakit menemukan pasien yang terinfeksi influenza tipe A.
Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi mengatakan perkembangan kasus dipantau melalui sistem surveilans kesehatan yang mencakup influenza-like-illness (ILI) dan severe acute respiratory infection (SARI).
“Pelapornya memang ada peningkatan nih, sejak kasus yang debu abu vulkanik itu ya. Peningkatan saluran pernapasan ini baik di SARI ataupun di ILI,” kata Vini pada Senin, (21/9/2026).
Meski mendapat kenaikan laporan kasus, Dinkes Jabar memastikan kondisi tersebut masih berada di bawah ambang batas kewaspadaan dalam sistem pemantauan kesehatan masyarakat.
Namun, temuan influenza tipe A menjadi perhatian karena infeksi virus tersebut dapat menimbulkan keluhan yang lebih berat dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Vini mengatakan pasien yang terinfeksi influenza tipe A umumnya mengalami demam tinggi yang disertai sejumlah gejala lain, seperti lemas, batuk, pilek, dan pegal-pegal.
“Untuk influenza tipe A memang pasien itu biasanya mengeluh demam tinggi, ya bisa di atas 40 derajat. Lalu ada lemas, batuk, pilek, pegal-pegal gitu ya,” katanya.
Dinkes Jabar mengingatkan masyarakat untuk kembali memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan penularan.
Masyarakat dianjurkan menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mencukupi waktu istirahat, serta rutin mencuci tangan setelah melakukan berbagai aktivitas.
Masyarakat yang sedang mengalami gejala flu maupun gangguan pernapasan juga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
Kelompok tersebut berpotensi mengalami komplikasi yang lebih serius apabila terinfeksi.
Dinkes Jabar mencatat peningkatan laporan gangguan saluran pernapasan antara lain terjadi di Kota Depok dan Kabupaten Bogor.
Meski demikian, Dinkes Jabar belum memiliki pemetaan khusus mengenai kasus influenza tipe A di setiap daerah.
Pasalnya, untuk memastikan jenis influenza tersebut diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus yang belum dilakukan secara luas.
“Nah, kalau influenza tipe A belum (terdata secara khusus), karena kan pemeriksaannya cukup mahal ya dan orang malas ya melakukan swab kayak dulu waktu Covid ya,” kata Vini.
Dinkes Jabar mengimbau masyarakat segera mendapatkan pemeriksaan medis apabila mengalami tanda-tanda infeksi yang lebih berat, terutama ketika sudah mengarah pada gangguan paru-paru atau pneumonia.
“Kalau misalnya yang paling parah itu atau harus berobat ke rumah sakit apabila ada tanda-tanda infeksi paru-paru misalnya ya atau pneumonia gitu ya. Nah, ini baru disarankan untuk datang berobat ke rumah sakit,” ujar Vini.
Sebelumnya, Dinkes Jabar telah memperkuat kesiapsiagaan puskesmas dan rumah sakit dalam menghadapi potensi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan abu vulkanik.
Fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak diminta memastikan ketersediaan tenaga kesehatan, obat-obatan, serta peralatan untuk menangani gangguan pernapasan.
Vini mengingatkan ISPA dan iritasi saluran pernapasan menjadi gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai akibat paparan abu vulkanik.
Keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, tenggorokan terasa gatal, pilek, sesak, hingga rasa berat di dada.