HAIJABAR.ID – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggaung terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino 2026 di Provinsi Jawa Barat.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memantau secara insentif kondisi sembilan bendungan untuk memastikan ketersediaan air selama musim kemarau.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakkan pemerintah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Antisipasi El Nino guna memperkuat koordinasi lintas unit organisasi di lingkungan Kementerian PU.

“Untuk mengantisipasi El Nino, kami membentuk Satgas. Karena yang terdampak tidak hanya irigasi dan sawah yang kekeringan, tetapi mungkin di beberapa titik SPAM dan bendungan juga akan mengalami kekeringan,” kata Dody, dikutip pada Senin, (6/7/2026).

Menurut Dody, dampak El Nino tidak hanya mengancam sektor pertanian, tetapi juga dapat memengaruhi layanan penyediaan air minum serta operasional infastruktur sumber daya air.

Karena itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif sejak dini untuk menjaga pasokan air dan mendukung ketahanan pangan nasional.

Kementrian PU Pantau 9 Bendungan di Jawa Barat

Sebagai bagian dari upaya mitigasi, BBWS Cimanuk, Cisanggarung mengoptimalkan sistem pengelolaan melalui Unit Pengelola Prasarana Pengendali Banjir dan Kekeringan (UP3BK).

Sistem tersebut mengintegrasikan pemantauan kondisi bendungan, bendung, daerah rawan kekeringan, pengaturan operasi air, layanan call center, Team Reaksi Cepat (TRC), hingga koordinasi lintas instansi agar setiap potensi gangguan dapat ditangani dengan cepat.

Sebanyak 290 personel disiagakan selama musim kemarau untuk memantau 9 bendungan, 33 embung, 23 situ, 25 bendung, serta jaringan irigasi yang berada di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung.

Hingga 30 Juni 2026, sembilan bendungan yang dipantau meliputi:

  • Bendungan Jatigede
  • Cipanas
  • Darma
  • Kuningan
  • Malahayu
  • Setupatok
  • Sedong
  • Bolang
  • Rancabeureum.

Cadangan Air Masih Mencukupi

Berdasarkan data Kementerian PU, total volume tampungan air di sembilan bendungan tersebut masih mencapai sekitar 1,10 miliar meter kubik.

Jumlah itu dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan air irigasi untuk lahan seluas sekitar 136.254 hektare selama musim kemarau.

Dody menjelaskan pelepasan air dari bendungan dilakukan secara terukur dengan menyesuaikan kondisi tampungan dan kebutuhan di lapangan.

Air dialokasikan untuk mendukung irigasi pertanian, penyediaan air baku, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sekaligus menjaga cadangan air hingga musim kemarau berakhir.

Seluruh data mengenai elevasi bendungan, volume tampungan, dan debit pengeluaran air dipantau setiap hari sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengoperasian bendungan di wilayah Jawa Barat.