HAIJABAR.ID – Harga daging ayam potong di sejumlah pasar tradisionel Kota Bandung, Jawa Barat, mengalami kenaikan hingga mencapai Rp 44.000 – Rp 45.000 per kilogram.

Pedagang pun meminta pemerintah turun tangan untuk menjaga kestabilan harga.

Pada Selasa, (25/8/2026) di sejumlah pasa tradisional Bandung kenaikan harga tersebut terjadi di antaranya di Pasar Ciceheum dan Pasar Kosambi.

Pasar Kosambi merupakan salah satu pasar tradisional besar di kawasan Bandung Raya sekaligus menjadi salah satu acuan pemerintah daerah dalam memantau inflasi yang dipengaruhi harga kebutuhan pokok.

Pedagang Keluhkan Daya Beli Masyarakat Menurun

Alan Suherlan (50) seorang pedagang daging ayam di Pasar Cicaheum, mengaku heran dengan kenaikan harga ayam yang cukup signifikan.

Pasalnya, menurut dia, stok daging ayam di pasaran masih terbilang stabil.

Ia mengatakan harga daging ayam sekitar sebulan lalu masih berada di kisaran Rp 36.000 – Rp 38.000 per kilogram. Namun, kini harganya telah mencapai Rp 45.000 per kilogram.

Kenaikan tersebut turut berdampak terhadap penjualan pedagang. Alan menyebut banyak pelanggan yang mengeluhkan harga ayam sehingga daya beli masyarakat ikut menurun.

“Banyak pelanggan saya yang protes. Daya beli masyarakat pun anjlok hanya 80 kg per hari dari sekitar 100 kg per hari,” ungkapnya.

Alan meminta pemerintah turun tangan untuk menyelesaikan persoalan kenaikan harga tersebut.

Ia menduga kenaikan harga dipicu oleh tingginya harga pakan ayam serta meningkatnya permintaan setelah program Makan Bergizi Geratis (MBG) kembali berjalan sejak bulan lalu.

Hal serupa disampaikan Reno (40), pedagang ayam di Pasar Kosambi. Ia menilai kenaikan harga daging ayam saat ini cukup anomali karena terjadi di luar momentum hari raya keagamaan.

”Biasanya kenaikan harga ayam saat menjelang hari raya keagamaan seperti bulan puasa hingga Idul Fitri. Kondisi saat ini harga ayam terus naik meskipun hari biasa,” tuturnya.

Reno berharap pemerintah melakukan pengawasan terhadap proses distribusi daging ayam sekaligus menyelidiki penyebab kenaikan harga.

Menurutnya, kondisi tersebut telah menyebabkan daya beli masyarakat turun hingga 30 persen dari target penjualan 100 kilogram daging ayam per hari.

Kemendagri Minta Pemda Turun Langsung Pantau Harga

Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir sebelumnya meminta pemerintah daerah menjaga stabilitas harga acuan di tengah kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) sejumlah komoditas.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga harga tetap sesuai dengan harga acuan penjualan maupun harga acuan pembelian (HAP).

Tomsi menyampaikan hal tersebut saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi secara hibrida dari Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Senin (24/8/2026).

Ia menekankan pentingnya pemerintah daerah turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi harga sekaligus mengambil langkah pengendalian yang tepat sasaran.

”Kami mengingatkan kembali bahwa tujuan kita agar harga tidak melebihi HAP. Oleh sebab itu, kita berusaha sekeras-kerasnya. Sekarang teman-teman daerah juga kami minta untuk turun ke lapangan turun ke pasar,” tegasnya.

Tomsi menambahkan, HAP merupakan harga yang ditetapkan pemerintah atau lembaga terkait sehingga perlu dijaga dan dipertahankan.

Menurutnya, kemampuan pemerintah daerah menjaga harga sesuai acuan merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus keberhasilan dalam mengendalikan harga komoditas.