Cirebon Jadi Wilayah Tanpa Hujan Terlama di Jabar, 10.095 Warga Terdampak Kekeringan


HAIJABAR.ID – Kabupaten Cirebon tercatat menjadi wilayah dengan periode tanpa hujan terpanjang di Jawa Barat. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 10 September 2026, Cirebon mengalami 110 hari tanpa hujan.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan sejumlah kabupaten lain di Jawa Barat yang masuk dalam daftar periode tanpa hujan terpanjang.
Kondisi ini terjadi bersamaan dengan meluasnya kesulitan mendapatkan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Cirebon.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon mencatat 10.095 jiwa dari 3.031 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan di empat kecamatan.
Berdasarkan data BMKG, periode tanpa hujan di Kabupaten Cirebon mencapai 110 hari hingga 10 September 2026.
Sejumlah wilayah lain di Jawa Barat juga mengalami periode tanpa hujan yang panjang. Berikut rinciannya:
Dengan catatan 110 hari, periode tanpa hujan di Kabupaten Cirebon lebih panjang dua hari dibandingkan wilayah yang berada pada angka 108 hari.
Lamanya periode tanpa hujan turut berdampak terhadap ketersediaan air bersih. BPBD Kabupaten Cirebon mencatat kekeringan telah berdampak kepada 10.095 jiwa dari 3.031 KK yang tersebar di empat kecamatan.
Kecamatan Klangenan menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak paling banyak, yakni 7.104 jiwa dari 2.063 KK.
Selanjutnya Kecamatan Sedong dengan 1.610 jiwa dari 485 KK. Kemudian Kecamatan Gegesik mencatat 761 jiwa dari 118 KK, sedangkan Kecamatan Talun sebanyak 620 jiwa dari 365 KK.
Berikut rincian warga terdampak:
Pelaksana Tugas BPBD Kabupaten Cirebon Syamsul Huda mengatakan distribusi air dilakukan berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi kondisi di lapangan.
“Distribusi air dilakukan berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi kondisi di lapangan,” kata Syamsul, Selasa (29/9/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, BPBD Kabupaten Cirebon telah menyalurkan 65.000 liter air bersih ke empat kecamatan tersebut.
Klangenan menerima distribusi terbesar dengan 37.000 liter. Selanjutnya Sedong memperoleh 20.000 liter, sedangkan Gegesik dan Talun masing-masing menerima 4.000 liter.
Jika dibandingkan dengan total bantuan, distribusi air ke Klangenan mencapai sekitar 56,9 persen. Sedong menerima sekitar 30,8 persen, sementara Gegesik dan Talun masing-masing sekitar 6,2 persen.
“Distribusi tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kekeringan berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan,” tuturnya.
Syamsul menjelaskan, penyaluran air bersih dilakukan melalui beberapa tahapan untuk memastikan bantuan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Tahapan tersebut meliputi:
Setiap penyaluran juga dicatat untuk mengetahui perkembangan kondisi kekeringan di wilayah Kabupaten Cirebon.
Data tersebut kemudian digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan kebutuhan bantuan pada penyaluran berikutnya.
“Kami masih terus memantau wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi di lapangan serta perubahan kebutuhan masyarakat,” ujar Syamsul.