BGN Suspend SPPG di Dramaga Bogor Usai 13 Siswa Diduga Keracunan MBG


HAIJABAR.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) memberhentikan sementara atau menangguhkan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, setelah 13 siswa diduga mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dugaan sementara, gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan bumbu kacang pada menu sate yang disajikan.
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan, sampel makanan yang dikonsumsi para siswa masih menjalani pengujian laboratorium.
Sambil menunggu hasil pemeriksaan, SPPG yang menyediakan makanan tersebut telah dikenai suspensi.
“Saat ini, sampel makanan juga dalam proses pengujian lab, nanti kita tunggu hasilnya seperti apa. Yang jelas, saat ini SPPG yang bersangkutan juga sudah dikenakan suspen,” katanya pada Selasa, (27/10/2026).
Tysa mengungkapkan, berdasarkan informasi sementara yang diterima BGN, dugaan penyebab gangguan kesehatan para siswa berasal dari bumbu kacang pada menu sate MBG.
“Informasi yang kami dapatkan, dugaan sementara, mereka mendapatkan dampak terhadap kesehatan mereka atas menu sate yang diduga ini dari bumbu kacangnya,” ujar Tysa.
Ia menjelaskan, hasil investigasi sementara menunjukkan SPPG tersebut tidak mengolah bumbu kacang dari awal.
Bumbu yang digunakan diketahui sudah dalam kondisi digiling sebelum diproses lebih lanjut oleh penyedia makanan.
“Nah, setelah dilakukan investigasi, sampai saat ini masih dilakukan investigasi, bumbu kacangnya itu ternyata diketahui oleh SPPG yang bersangkutan itu, bumbu kacangnya, bumbu yang kacangnya sudah digiling. Jadi, bukan diproses dari awal. Nah, dugaan sementara itu,” ujar Tysa.
Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pengujian laboratorium dan investigasi lebih lanjut.
BGN juga meluruskan informasi mengenai jumlah siswa SMP di Dramaga yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap MBG.
Tysa menegaskan, jumlah siswa yang masih menjalani observasi bukan 481 orang, melainkan 13 orang hingga Selasa sore.
“Soal peristiwa yang berdampak terhadap kesehatan di Bogor tersebut, kami ingin klarifikasi bahwa jumlah korbannya tidak 400 orang seperti yang diberitakan oleh sejumlah media. Yang benar adalah, sampai dengan sore hari ini, jumlah korban atau kita menyebutnya mereka yang terdampak dan masih dalam observasi, itu sebanyak 13 orang,” ujar Tysa.
Ia mengatakan, informasi tersebut diperoleh dari tim di lapangan yang terdiri atas BGN Pusat, Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG), dan tim asistensi.
Menurut Tysa, para siswa mengonsumsi MBG pada Senin (26/10) siang. Keluhan diare baru muncul pada Selasa dini hari.
“Sebetulnya peristiwa ini adalah peristiwa makannya kemarin siang, kemudian dini hari ada beberapa siswa yang mengeluhkan kena diare,” ujar Tysa.
Tysa menjelaskan, angka 400 siswa bermula ketika guru mengumpulkan para siswa yang mengonsumsi MBG pada Senin pagi berikutnya, lalu menanyakan apakah mereka mengalami sakit perut.
Sebanyak 400 siswa menyatakan merasa sakit perut dan kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan.
“Dari siswa tersebut ketika ditanya, mereka mungkin ada rasa seperti psikosomatis ya, ada yang ditanyakan ada rasa sakit perut enggak? Akhirnya 400 orang bilang kayaknya saya sakit perut. Nah, kemudian 400-nya itu dibawa ke rumah sakit terdekat,” ujar Tysa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 40 orang membutuhkan observasi lanjutan hingga siang hari. Jumlah siswa yang masih menjalani observasi kemudian berkurang menjadi 13 orang hingga Selasa sore.
Tysa menegaskan, BGN tetap memperhatikan kejadian tersebut meskipun jumlah penerima manfaat yang masih menjalani observasi jauh lebih sedikit dibandingkan total penerima MBG di wilayah itu.
“Kami tentu tidak mengecilkan peristiwa yang berdampak terhadap kesehatan para penerima manfaat itu, tapi dari data yang kami dapatkan, saat ini ada 13 orang yang masih diobservasi di rumah sakit terdekat dari total 2 ribu lebih penerima manfaat dari dua sekolah di Dramaga, di Bogor,” ujar Tysa.
Sementara itu, Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, sebagian besar siswa yang diduga mengalami keracunan telah membaik dan mulai dipulangkan.
“Alhamdulillah, kondisi para siswa berangsur membaik dan stabil bahkan akan dipulangkan,” kata Rudy mengutip detikcom, Selasa (27/10).
Rudy menyebutkan, sebagian besar siswa ditangani tim kesehatan Puskesmas Cangkurawok. Sejumlah siswa lainnya sempat dirujuk ke beberapa rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Ia memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung Pemerintah Kabupaten Bogor, baik untuk perawatan di rumah sakit pemerintah, puskesmas, maupun rumah sakit swasta yang menjadi rujukan Puskesmas Cangkurawok.