95 Persen Wilayah Jabar Bakal Telat Masuk Musim Hujan, BMKG Ungkap Penyebabnya


HAIJABAR.ID – Musim hujan 2026/2027 di Jawa Barat diprediksi datang lebih lambat dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) memperkirakan 95,2 persen wilayah Jawa Barat mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologis.
Tak ganya datang lebih lambat, musim hujan 2026/2027 di Jawa Barat juga diprediksi berlangsung lebih singkat.
Dari 41 Zona Musim (ZOM), sebanyak 40 ZOM diprakirakan mengalami durasi musim hujan lebih pendek dibandingkan kondisi normal.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat Rakhmat Prasetia mengatakan awal musim hujan di Jawa Barat diprediksi berlangsung secara bertahap mulai Oktober hingga Desember 2026.
“Secara umum awal musim hujan di wilayah Jawa Barat diprediksi terjadi pada Oktober hingga Desember 2026, dengan sifat hujan dominan berada pada kategori normal,” kata Rakhmat pada Jumat, (2/10/2026).
Jawa Barat memiliki 41 ZOM dengan karakteristik awal musim hujan yang berbeda-beda. Sebanyak 20 ZOM diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026.
Kemudian, 10 ZOM diprakirakan memasuki musim hujan pada Oktober 2026, sementara 10 ZOM lainnya baru mengalami awal musim hujan pada Desember 2026. Satu ZOM lainnya memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun.
Secara keseluruhan, 39 Zom atau sekitar 95,2 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991-2020.
Hanya satu ZOM yang diprakirakan memasuki musim hujan sesuai kondisi normal, sedangkan satu ZOM lainnya memiliki pola hujan sepanjang tahun.
Menurut Rakhmat, kondisi tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer global. Salah satu faktor yang masih memberikan pengaruh kuat adalah fenomena El Niño.
“Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global yang masih menunjukkan pengaruh kuat fenomena El Niño. Berdasarkan pemantauan hingga Agustus 2026, ENSO berada pada fase El Niño sangat kuat dan diperkirakan masih berlangsung hingga awal tahun depan,” beber Rakhmat.
Selain El Niño, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga menjadi perhatian. IOD diprediksi berada dalam fase positif hingga akhir 2026.
Kombinasi kedua fenomena tersebut berkontribusi terhadap mundurnya awal musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.
Meski awal musim hujan diprediksi mundur, karakteristik curah hujan selama musim hujan 2026/2027 secara umum masih berada dalam kategori normal.
Dari 41 ZOM di Jawa Barat, sebanyak 37 ZOM atau sekitar 90,3 persen diprediksi memiliki curah hujan kategori normal.
Sementara itu, tiga ZOM diperkirakan berada dalam kategori bawah normal dan satu ZOM berada pada kategori atas normal.
BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Barat mencapai puncak musim hujan pada Februari 2027.
Sebanyak 29 ZOM atau sekitar 70,8 persen wilayah diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Februari.
Sementara 10 ZOM lainnya diprakirakan mencapai puncak musim hujan pada Maret 2027.
Dengan pola tersebut, pemerintah daerah dan masyarakat diminta memperhatikan perkembangan informasi iklim untuk menyesuaikan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan cuaca dan curah hujan.
Rakhmat juga mengingatkan pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, serta masyarakat agar menjadikan informasi prakiraan musim sebagai bahan perencanaan dan upaya mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
“Informasi prediksi musim dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan langkah antisipasi dalam pengelolaan sumber daya air, kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi, serta perencanaan kegiatan pertanian,” beber Rakhmat.
Selain waktu datangnya musim hujan yang lebih lambat, durasi musim hujan 2026/2027 di Jawa Barat juga diproyeksikan lebih pendek.
Sebanyak 40 dari 41 ZOM diprediksi mengalami musim hujan dengan durasi lebih singkat dibandingkan rata-rata klimatologis.
Kondisi tersebut membuat pemantauan perkembangan cuaca dan iklim tetap diperlukan, terutama menjelang dan selama musim hujan berlangsung.
“Masyarakat diimbau juga untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim resmi yang dikeluarkan BMKG guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi selama periode musim hujan mendatang,” ungkap Rakhmat.